Informasi dan Layanan

FORUM PUSPA

test
Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak -FORUM PUSPA PETA ARUM DI KOTA BLITAR DIBENTUK SEJAK TANGGAL 16 NOVEMBER 2021 SESUAI SURAT KEPUTUSAN WALIK..

PAK GIMIN SEMANGAT

test
Paket Gizi Ibu Hamil Nambah Sehat Atasi Stunting (PAK GIMIN SEMANGAT)Upaya Pencegahahan Stunting Berkelanjutan dengan melibatkan Lintas Perangkat Daerah dirumuskan menggu..

SINERGI BERLIAN

test
AKSI DAN KOLABORASI SATUKAN ENERGI BERSAMA LINDUNGI ANAK KOTA BLITARDalam rangka peningkatan sosialisasi tentang Perlindungan Perempuan dan Anak di Kota Blitar, perlu ada..

BERITA UTAMA

Selasa, 16 Juli 2024 jam 09.00 WIB bertempat di Aula DP3AP2KB diadakan Pertemuan Rutin SATGAS PPA dengan narasumber ibu Najihah Dahriyati M. Psi., Psikolog. Di dalam UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), definisi Penyandang Disabilitas diatur pada Pasal 1 ayat 8 sebagai berikut:"Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak."Jenis – Jenis DisabilitasDisabilitas Fisik : Merupakan terganggunya fungsi gerak, antara lain: amputasi; lumpuh layuh atau kaku; paraplegi; cerebral palsy (CP); akibat stroke; akibat kusta; dan orang kecil.Disabilitas fisik disebut juga disabilitas dengan gangguan mobilitas. Disabilitas Sensorik : Gangguan yang terjadi karena terganggunya salah satu fungsi dari panca indera.Gangguan sensorik ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu : disabilitas sensorik netra dan disabilitas sensorik rungu dan wicara.Disabilitas Mental : Terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku yang meliputi: psikososial (antara lain: skizofrenia, bipolar, depresi, anxietas, dan gangguan kepribadian); maupun perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial (autis dan hiperaktif)Disabilitas Intelektual : Disabilitas yang terjadi karena adanya hambatan untuk berpikir cepat atau kompleks dan untuk menyampaikan sesuatu dengan tertata atau rasional karena tingkat intelegensi atau kecerdasan dibawah rata-rata. Disabilitas intelektual  tuna grahita. Disabilitas intelektual juga dapat didefinisikan sebagai terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan jauh dibawah rata-rata, antara lain: tuna grahita; dan down syndrome.Disabilitas Ganda : Keadaan dimana seseorang mempunyai dua atau lebih ragam disabilitas, misalnya rungu-wicara dan netra-rungu.Disabilitas Rentan menjadi Korban KekerasanTerdapat cara pandang normalisme yang memanfaatkan hambatan kedisabilitasan seseorang, sehingga penyandang disabilitas tidak dapat berpartisipasi secara penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak. Kondisi semakin diperburuk ketika penyandang disabilitas tersebut sekaligus adalah: perempuan, anak, lansia, minoritas gender dan seksual, kelompok miskin, minoritas ras, minoritas agama, kelompok penghayat, dan sebagainya Kekerasan pada DisabilitasSegala tindakan membahayakan, merugikan, dan merendahkan yang terjadi pada seseorang karena situasi dan kondisinya sebagai penyandang disabilitasDi dalam masyarakat dengan nilai-nilai “kenormalan” yang masih sangat kuat, penyandang disabilitas rentan mengalami kekerasan, karena hambatan personal, lingkungan dan kebijakan membuat mereka tidak bisa berpartisipasi secara penuh dan setara. Penyandang disabilitas sebagai korban kekerasan mengalami stigma, pengekangan yang secara sewenang-wenang, pengambil  alihan hak ekonomi, KBG dan/atau KBGODengan segala keterbatasanya penyandang disabilitas kerap sekali mengalami berbagai kekerasan seperti :Kekerasan seksual, kekerasan fisik, kekerasan psikologis, Penelantaran ekonomi, bentuk kekerasan lainnya.ASESMEN PADA PENYANDANG DISABILITAS KORBAN KEKERASANAsessment; Merupakan proses pengumpulan informasi untuk mengungkap dan memahami permasalahan, kebutuhan dan potensi yang dimiliki oleh klien guna menyusun rencana dan tindakan yang tepat.Tujuan AsessmentMengumpulkan data yang relevan dengan isu atau kasus yang sedang ditangani (permasalahan, kesulitan, potensi, dan kebutuhan). Memverifikasikan data yang telah dikumpulkan dengan mempertimbangkan sumber informasi, kedekatan, dan relevansi dengan kasus yang sedang dihadapi.Mengidentifikasi dan mengindividualisasi kebutuhan-kebutuhan penyandang disabilitas dan keluarga.Menjamin aktivitas pertolongan dilakukan secara efektif selektif.Menjadi dasar rencana intervensiTEKNIK ASESMEN PADA PENYANDANG DISABILITAS KORBAN KEKERASANPendekatan Awal : Tahapan membangun kedekatan dan kepercayaan antara satgas dengan korban dan keluargaTujuan : agar terbangun kepercayaan dari korban dan keluarga, sehingga terjadi kesepakatan layanan. Sehingga didapatkan Gambaran kondisi secara umum dari penyandang disabilitas.Langkah-langkah Pendekatan Awal Membangun kepercayaan dengan pembicaraan yang hangat dan terbuka, menunjukkan penerimaan terhadap penerima manfaat (penyandang disabilitas dan keluarganya). Melakukan asesmen awal berupa pengukuran tingkatan risiko pada penyadang disabilitas untuk mengetahui apakah penyadang disabilitas dalam situasi darurat/tidak. Jika mengalami situasi darurat, lakukan respon kasus kedaruratan. Jika tidak mengalami situasi darurat, lanjutkan dengan membuat kesepakatan layanan/ Informed consent.Membangun kesepakatan layanan, adalah kesepakatan keluarga dan penyandang disabilitas. Hasil dari asesmen awal menentukan apakah penyandang disabilitas akan mendapatkan layanan dikeluarga, di komunitas atau di lembagaAssesmen Komprehensiflakukan asesmen komprehensif oleh berbagai ahli dalam bidangnya dengan menggunakan instrument yang telah ditetapkan. Seperti asesmen kesehatan dan fungsi fisik oleh dokter. Asesmen psikososial oleh pekerja sosial dan psikolog. Asesmen vokasional oleh instruktur, dsb. Pelaksana asesmen ini antara lain: pekerja sosial, paramedis, psikolog, instruktur dan terapis. Asesmen berkelanjutan terus dilakukan selama proses pelayanan diberikan untuk memantau perkembangan Penyandang disabilitas.Keterampilan yang dibutuhkan:Mendengarkan aktif reflektif, dapat dilakukan dengan cara:1. Membiarkan korban berbicara 2. Memperlihatkan kepedulian melalui bahasa tubuh, seperti: memandang matanya, sesekali mengangguk, dan menampilkan ekspresi yang diungkapkannya saat bercerita, dan tidak mengambil posisi terlalu jauh sehingga terkesan menolak. 3. Memberikan ekspresi-ekspresi verbal singkat seperti: “oh ya…., mmmm…., saya mengerti….4. Saat korban bercerita, kita dapat mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan     relevan yang membuat orang bertambah terbuka tentang pikiran dan     perasaannya. Seperti: “bagaimana kelanjutannya?. “lalu?”,     “oh…begitu…terus bagaimana?”5. Mengulang isi cerita dalam bahasa yang lebih singkat dan padat.     Contoh: “oh…jadi adik dipaksa untuk melakukan itu?”.6. Merefleksikan perasaan yang terkandung dalam cerita. Contoh: “Adik terpaksa, dan pasti bingung bagaimana menolaknya..”7. Kita pun dapat menyampaikan pengamatan kita terhadap perasaan yang dialami korban seperti: “Adik menyesal telah melakukan itu?”. 
Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi hak-hak dari korban. Untuk dapat menjalankan tugas ini dengan baik, seorang anggota Satgas PPA perlu memiliki dasar kepribadian yang kuat. Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain  bagaimana respon seseorang Ketika berada pada situasi tertentuKepribadian  Persona  “Topeng”Untuk bisa memahami orang lain, Salah satu dasar kerpibadian yang wajib di miliki oleh Satgas PPA, adalah sikap empati. Maka dari itu Dinas P3AP2KB Kota Blitar, mengadakan pertemuan dengan Satgas PPA Kota Blitar pada Hari Rabu, tanggal 25 September 2024 jam 09.00 WIB yang bertempat di Aula Dinas P3AP2KB Kota Blitar. Pertemuan ini dihadiri oleh Satgas PPA Kota Blitar tiap kelurahan 2 (dua) orang dengan narasumber Ibu Najihah Dahriyati Candrasari, S.Psi dari Dinas Kesehatan Kota Blitar.Pentingnya empati"Empati sebagai dasar dalam menjalin hubungan interpersonal" Dengan empati, seseorang mampu membaca perasaan seseorang, baik secara verbal ataupun isyarat non-verbal.Dengan empati, dapat memahami situasi dan kondisi sehingga dapat menjalin hubungan antar individu dengan baikPentingnya Empati bagi Satgas PPAMembangun Kepercayaan ; Korban kekerasan seringkali merasa takut, malu, dan tidak percaya pada orang lain. Dengan menunjukkan empati, anggota Satgas PPA dapat membangun rasa percaya sehingga korban merasa aman untuk menceritakan pengalaman yang dialaminyaMemahami Kebutuhan Korban : Setiap korban memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Dengan memahami perasaan dan perspektif korban, anggota Satgas PPA dapat memberikan dukungan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan merekaMencegah Retraumatisasi : Perlakuan yang tidak empatik dapat menyebabkan korban mengalami retraumatisasi. Anggota Satgas PPA yang empatik akan berusaha menghindari tindakan yang dapat memperburuk kondisi psikologis korban.Meningkatkan Efektifitas Penanganan Kasus : Anggota Satgas PPA yang empatik akan lebih mudah mengumpulkan informasi yang akurat dari korban. Informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu dalam proses penanganan kasus.Menjaga Kesehatan Mental Anggota Satgas PPA : Membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan dapat menjadi beban emosional yang berat. Dengan mengembangkan kemampuan empati yang sehat, anggota Satgas PPA dapat menjaga keseimbangan emosional dan mencegah burnout.Cara Mengembangkan Empati Berlatih Mendengarkan Aktif; Ketika berkomunikasi dengan korban, berikan perhatian penuh pada apa yang mereka katakan. Hindari menyela atau memberikan penilaian.Bayangkan Diri Anda dalam Posisi Korban ; Cobalah untuk merasakan apa yang akan Anda rasakan jika berada dalam situasi yang sama.Tingkatkan Keterampilan Komunikasi ; Pelajari cara berkomunikasi dengan efektif dan asertif. Hindari menggunakan bahasa yang menyudutkan atau menyalahkan korbanKenali Diri Sendiri ; Pahami emosi dan pikiran Anda sendiri. Dengan memahami diri sendiri, Anda akan lebih mudah memahami orang lain.Berinteraksi dengan Orang yang Berbeda : Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Hal ini akan membantu Anda memperluas perspektif dan memahami perbedaan.Oleh sebab itu, empati mejadi dasar dari kepribadian yang wajib di miliki oleh Satgas PPA.   
BLITAR - Pemerintah Kota Blitar melalui Badan Pemeberdayaan Masyarakat ( Bapemas ) dan KB memberi wadah bagi pelajar tingkat sekolah dasar untuk berkreasi dalam lomba Fashion Show Badjoe Djadoel 2015. Lomba dalam rangka peringatan hari Kartini ini telah berlangsung di Balaikota Kusumowicitro Kota Blitar, Senin (27/04).Nurwaini, SE Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dan Anak Bapemas dan KB Kota Blitar pada Selasa (28/04) mengatakan bahwa lomba fashion show yang dilaksanakan sengaja mengambil tema Baju Jadul dikaitkan dengan peringatan hari Kartini dan peringatan Hari Jadi kota Blitar tahun 2015. Untuk menjadikan ajang apresiasi dan kreasi siswa khususnya yang memiliki talenta fashion show. Selain itu juga untuk mengakrabkan antar pelajar dari sekolah yang satu dengan yang lain, khususnya para pelajar SD/MI sehingga tercipta tali persaudaraan dan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme.Dalam lomba fashion show yang dibuka Yuli Samanhudi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Blitar itu diikuti peserta sebanyak 37 anak. Dari lomba itu diambil juara I hingga III serta harapan I dan II. Peraih juara berhak atas hadiah berupa piagam dan uang pembinaan yang rencananya akan diberikan pada resepsi hari jadi ke-109 Kota Blitar tahun 2015. (der) 

Berita Terbaru

Polling

Apakah informasi ini bermanfaat?


Saran

VIDEO KEGIATAN

...
10 Oct 2024 / by Administrator
...
10 Oct 2024 / by Administrator
Lihat Lainnya